Rabu, 02 Juni 2010

Depresi

Depresi

 

 

Depresi adalah suatu kondisi medis-psikiatris yang menyatakan gangguan pola pikir dan perilaku yang maladaptif dan terus berulang. Kondisi ini menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Gangguan depresi termasuk dalam kategori diagnostik gangguan suasana perasaan (mood/afektif) yang sifatnya menetap.

Menurut Phillip L. Rice (1992), depresi merupakan gangguan mood yang berkepanjangan yang mewarnai seluruh mental seseorang dalam berperilaku, perasaan dan kognitif (berpikir). Selain itu depresi juga mempengaruhi masalah dan kondisi perasaan seseorang yang mempengaruhi kepribadiannya sehingga individu mudah marah, cepat sedih, melamun, menyalahkan diri sendiri dan cepat merasa putus asa. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

Depresi biasanya terjadi saat stres yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang. Akumulasi stressor yang terus menumpuk dan yang tidak terselesaikan disinyalir sebagai pemicu munculnya depresi. Secara karakteristik diagnosa stres yang berkepanjangan sekurang-kurangnya sampai 1 tahun atau lebih (pada anak-anak dan remaja 1 tahun) maka baru dapat digolongkan sebagai gangguan depresi berat.

Menurut APA (Association Psychologist America) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV) menyebutkan bahwa kemunculan awal yang kuat dari depresi ditandai dengan adanya perubahan mood dan kehilangan ketertarikan pada aktivitas menyenangkan yang biasa dilakukan oleh individu selama 2 minggu atau lebih (memasuki tahap depresi; Episode Depresif). Pada anak-anak dan orang dewasa menunjukkan rasa sedih mendalam, beberapa perubahan yang dikemudian hari ditunjukkan dengan adanya penurunan berat tubuh secara drastis, sulit tidur, psikomotorik melambat, kekurangan energi, perasaan bersalah, sulit berpikir dan berkonsentrasi, susah dalam pengambilan keputusan dan adanya keinginan atau percobaan bunuh diri.

 

 

Gejala umum

Gejala depresi dimulai adanya kemunculan pemicu stress (stressor) yang diawali dengan pelbagai perubahan perilaku awal. Manifestasi gangguan klinis biasanya ditunjukkan dengan ciri-ciri umum dibawah ini;
- Perasaan murung, sedih dan mudah marah (perasaan yang dapat berubah-ubah)
- Kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari
- Lesu, pesimis, sering menyalahkan diri sendiri
- Memikirkan hal-hal yang menyedihkan, suka mengeluh
- Apatis, dan kadang bersikap sarkastik (kasar)
- Mudah kaku dan tegang
- Menolak intervensi pengobatan
- Gangguan nafsu makan
- Gangguan pola tidur, sulit tidur
- Kehilangan energi dan penurunan psikomotorik
- Penurunan dorongan seksual
- Adanya keinginan untuk bunuh diri (Tentamina Suicidum)
- Pandangan masa depan yang suram (pesimistik)
- Konsentrasi dan perhatian berkurang

Teori psikoanalisa menginterpretasikan depresi sebagai reaksi terhadap kehilangan, orang yang mengalami depresi bereaksi secara kuat pada situasi sekarang mengembalikan semua ketakutan dan kehilangan yang pernah terjadi pada masa kanak-kanak dengan alasan bahwa kebutuhan individu akan kasih sayang orangtua dan perhatian yang tidak terpuaskan. Suatu kehilangan (dapat berupa; penolakan orang yang dicintai, kehilangan status, kehilangan dukungan moral dari lingkungan atau teman) pada kehidupan selanjutnya menyebabkan individu tersebut mundur ketidakberdayaan (White dan Watt, 1981)
 


Gangguan Bipolar

Sebagian besar depresi yang terjadi tanpa periode mania (luapan emosi secara berlebihan). Setengah dari penderita depresi (mood disorder) mengalami gangguan bipolar, dimana penderita berselang-seling antara depresi dan mood normal atau antara elasi ektrim dan mood normal. Perubahan siklus antara episode depresif dan epsiode manik bergantian secara cepat atau sebaliknya, kondisi disebut dengan gangguan (depresi) bipolar atau dikenal juga dengan istilah manik depresif.
 

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta..."

(QS. Thaahaa, 20:124)


Pada episode manik, individu berkelakuan berlawanan dengan simtom-simtom depresi yang tampak, selama episode ini penderita terlihat energik, antusias, penuh percaya diri, berbicara terus menerus, berpindah-pindah dari suatu aktivitas ke aktivitas lain, atau membuat perencanaan dengan sedikit pertimbangan. Sementara pada penderita episode manik parah ditandai dengan perilaku seperti berjalan secara terus menerus (bolak-balik), bernyanyi, berteriak, memukul dinding atau secara terus menerus melakukan aktivitas dari suatu pekerjaan ke yang lainnya.
 


Episode Manik

1) Hipomania
Gangguan lebih ringan dari mania, afeksi yang meninggi atau berubah disertai dengan peningkatan aktivitas menetap dan memberi pengaruh nyata terhadap pekerjaannya dalam beberapa hari berturut-turut atau menetap melebihi siklotimia [1]
2) Mania
Episode ini berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu. Pada episde ini terjadi perubahan afeksi dan peningkatan energi berlebihan sehingga mengacaukan seluruh atau hampir keseluruhan pekerjaannya atau aktivitas sosial yang sering dilakukan individu. Pada tahap ini mulai terjadi kesulitan dalam tidur, percepatan psikomotorik, bicara terlalu banyak, terlalu optimistik.
3) Mania dengan gejala psikotik
Secara klinis terdiri dari gejala berat daripada mania, timbulnya gagasan waham dan halusinasi sesuai dengan afek tersebut. Harga diri membumbung dan ditandai dengan kemunculan waham kebesaran (delusion of persecution)
 


Neurotransmiter

Di dalam tubuh, secara biokimiawi, neurotransmiter (diantaranya; norepinephrine, serotonin, acetylchlorine, dopamine, dan gamma-aminobutryric acid (GABA)) bertanggungjawab terhadap pengaturan mood. Serotonin dan norepinephrine memiliki peranan penting dalam meregulasi perilaku emosi (sistem limbik dan hipotalamus). Pada penderita depresi ditemukan bahwa kadar neurotransmiter dalam jumlah lebih rendah atau melebihi dibandingkan pada orang normal. Setelah melalui penelitian yang panjang, beberapa ahli berkesimpulan bahwa kekurangan salah satu dari kedua neurotransmiter dapat memberi pengaruh kemunculan depresi.

Beberapa jenis obat menjadi standar dari FDA (Food and Drug Administration) [2] Amerika untuk mengobati depresi menggunakan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) diantaranya adalah Adapin, Anafranil, Asedin, Aventyl, Celexa, Cymbalta, Desyrel, Effexor, Elavil, Endep, Imipramine, Lexapro, Luvox, Norpramin, Paxil, Prozac, Sarafem, Sinequan, Wellbutrin, Zoloft, dan sebagainya. Obat-obatan tersebut bekerja melindungi serotonin dan norepinephrine dari enzim-enzim yang dapat merusaknya, obat jenis Inhibitor Monoamin Oksidase (MAO) juga menjaga kedua neurotransmiter agar tetap seimbang sementara antidepresan trisiklik mencegah kedua neurotransmiter tidak kembali ke tempat awal dimana dilepaskan (reuptake).   [PD]

 

 

__


[1] Siklotimia adalah gangguan afeksi yang menetap yang ditandai dengan ketidakstabilan dari suasana perasaan-perasaan yang meliputi banyak periode depresi ringan yang tidak cukup parah.

[2] Pada tahun 1992 FDA melaporkan bahwa 28.600 orang terkomplikasi akibat penggunaan obat depresi yang tidak sesuai dari ketentuan FDA dan 1.700 orang dilaporkan meninggal akibat penggunaan obat-obatan anti depresi yang tidak sesuai.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar